Mungkin sampai mati aku hanya bisa berharap, walaupun aku
tahu pasti harapan itu hanya sekedar harapan kosong.
Semua berawal dari keisenganmu. Kau pandai bergaul dengan
siapa saja termasuk aku. Karena hari-hari yang kita lalui bersama, tak
tersadari telah datangkan rasa itu. Rasa yang tak kumengerti, tak tahu pasti
apa itu artinya. Semakin ku selidiki, namun saat aku sadar mengapa perih yang
kurasa. Rasa ini membuatmu jauh dariku, bukan ini yang kuinginkan. Kau
mengelak, tak terima atas ketulusanku.
Dan kini, yang semakin membuatku hancur, dia kembali ke
dalam kehidupanmu. Mencampur adukan akal sehatku yang belum sempat pulih tuk
menerima keputusanmu yang tak sejalur dengan inginku. Ku mohon, jangan kau
kembali padanya. Ingatkah engkau ketika kau sakit karenanya? Tak ingin ku
melihat air mata itu kembali membasahi pipimu. Aku enggan jika kau menghampiriku hanya dengan namanya yang
kau sebut.
Sadar, sadarlah...semoga ada yang jauh lebih baik dari aku dan dia.

