Hari ini hujan turun begitu deras, nampaknya Tuhan sengaja menurunkannya agar hati ini ada yang menemani. Air mata yang sedari tadi membasahi pipi ini, tak terbendung layaknya hujan yang tak kunjung reda. Bimbang, kini yang aku sedang rasakan. Pilihanku antara dua. Apakah ini semua salahku?
Bukan. Ini kesalahanmu. Mengapa dulu kau begitu tega melakukan itu. Sampai saat ini aku masih saja teringat akan kesalahanmu yang tak mungkin tak membuatku hilang akal, perih . Kau beruntung, kau ku maafkan. Aku lakukan itu karenamu. Kaulah yang telah menemaniku begitu lama. Menyayangiku dengan penuh perhatian yang orang lain tak bisa berikan, bahkan oleh seseorang yang sedang menjagaku kini. Namun, kau jangan terlalu berharap. Kini ada dia. Walaupun tak sepertimu, ia tetap menjadi seseorang yang kini aku sayangi, seseorang yang merelakan dirinya jatuh pada lingkaran kekecewaanku karenamu. Tapi Tuhan, mengapa hati ini masih goyah? Tak seharusnya aku masih begitu dekat dengan sosok seperti dirimu. Aku masih saja percaya kata-katamu, mengikuti saran orangtuaku, mengikuti inginku tuk terus di sampingmu. Seakan aku lupa sisi darimu yang telah menghancurkan perasaanku, dan membuatnya kelu.
Sampai saat ini aku tak bisa putuskan. Dia yang kini bersamaku, ah aku tak ingin membuatnya sakit. Bila perlu jujur, hati ini masih teringat dirimu. Kau senang? Sadarlah. Tapi ini tak seperti dulu, ketika aku memberikan seluruh ketulusanku untukmu. Tolong, jangan berbuat seenaknya semaumu. Aku perlu berpikir. Tak seharusnya kau buat aku seperti ini. Beri aku waktu untuk bersamanya. Mengisi hari-hariku dengan keceriaannya. Jangan salahkan aku.
"Makasih, ya." Kalimat itu yang senantiasa keluar dari mulutku setiap ia mengantarku ke rumah. Sambil berucap, kulihat wajahnya hati pun berkata, 'maaf, maaf, maaf...tak seharusnya aku membawamu ke dalam pikiranku yang belum ada kepastian ini. Bukan aku serakah. Aku hanya tak tahu harus memilih arah mana. Aku butuh kepastian. Tolong kau jangan pergi dulu, aku tak tahu, mungkin saja kamu yang akan tetap di sisiku. Terima kasih ya, atas kesediaanmu menemaniku, menghiburku. Walau aku bisa membedakan begitu bedanya dirimu dengan dirinya yang dulu.'
Sumua ini begitu semu. 1 atau 2? Aku belum tahu pasti. Air mata ini terus mengalir. Jika sudah begini, ingin rasanya hidup sendiri saja. Tak ada kau, tak ada dirinya. Tuhan, aku tahu Kau akan memberiku jalan yang terbaik.

0 komentar:
Posting Komentar